Rabu, 04 November 2015

Antara aku dan Gojek

Gojek. Mendengar atau membaca kata itu, mungkin sebagian besar dari kalian akan langsung terbayang tentang sebuah perusahaan transportasi yang melayani pesanan secara online melalui 
Ojek.




Yup, kalian benar! Perusahaan Ojek berbasis online ini kini rupanya sedang dalam masa "jaya"nya, dilihat dari banyaknya peminat dan orang-orang yang tertarik dengan aplikasi Gojek ini, mengakibatkan banyaknya jumlah unduhan aplikasinya di Google Play maupun App Store. Nah, aku pun tak mau ketinggalan, ikut "meramaikan" dan mengunduh aplikasi Ojek online ini. Kebetulan juga, aplikasi ini cukup membantuku bila aku telat dijemput di sekolah atau bila kebetulan tidak ada yang mengantar ke tempat les.

Nah, tapi kali ini aku tidak akan membahas tentang sejarah atau fakta unik tentang Gojek, melainkan tentang cerita-cerita dan pengalamanku selama mencoba dan menggunakan aplikasi yang saat peluncuranya ini sudah diunduh 400 ribu kali.


Gojek 1

Pertama kali aku memakai aplikasi ini saat aku akan pergi ke Klinik Papah yang berlokasi di jalan Aceh. 

Pada saat itu, aku memesan Gojek dan menuliskan alamat rumahku di peta. Sialnya, peta itu sangat tidak membantu! Masa jalan yang dituliskan di peta berbeda dengan yang aslinya!

Oke, lupakan soal peta terkutuk itu. Setelah memencet tombol bertuliskan "Order", aku menunggu aplikasi itu untuk menemukan driver.

3 menit kemudian... Ting! We found you a driver!

Weizzz! Edan euy...! Langsung dapat!

10 menit kemudian, datanglah Gojek yang aku pesan tadi. Untungnya ia tidak kesasar, sehingga dengan mudah ia menemukan alamat rumahku.

Nama drivernya aku lupa, tapi yang kuingat saat itu aku menggunakan helm hijau bertuliskan "Gojek". Oh iya, (untungnya) driver pertamaku ini tahu alamat yang dituju, sehingga aku pun sampai ke Klinik papah dengan selamat dan dalam waktu 28 menit.

Gojek 4

Sengaja aku menuliskan langsung ke nomor 4, karena menurutku inilah Gojek termewah dan terkeren seumur hidupku...

Terkeren? Termewah?

Ya! Itu karena motor driver kali ini kalau menurutku cukup wah. Motornya sendiri (kalau tidak salah) termasuk dalam kategori "Motor Gede".


 Setelah cukup lama melihat dan takjub seketika, aku pun segera naik dan pergi ke tempat tujuanku, yaitu rumah.

Gojek 10

Kalau menurutku, Gojek inilah yang bisa dibilang paling ngeselin. Itu karena si driver tidak tahu alamat posisiku saat itu (disekolah) dan parahnya lagi, kali ini kesasarnya 1 jam lebih! Keterlaluan bukan?

Karena sudah bete dan pasrah akan keadaan, maka aku putuskan untuk tetap menunggu driver tersebut. 

Dan tepat 50 menit kemudian...

Driver tersebut datang, dan tidak meminta maaf sama sekali tentang kekoplakanya itu. Grrr!

Gojek 18

Saat Gojeknya datang, aku kaget sekali! Bukan, bukan karena Motornya yang Wow lagi, tapi karena....

Driver yang datang ada 2!

Lho? Ini bagaimana ceritanya toh???

Jadi awalnya, 2 temanku bilang bahwa ada 2 Gojek yang mencariku. Nah, karena bingung "kenapa yang datang ada 2", maka aku putuskan untuk langsung ke TKP (kayak OVJ aja).

Sesampainya di TKP, dua driver itu mengaku Gojek dan mengaku pula bahwa mereka berdua mau menjemputku! Hah? Yasudah, aku putuskan untuk memilih Gojek yang pertama kali datang. Anehnya, Gojek tersebut tidak membawa Helm.

Dan rupanya, aku bau tahu bahwa aku salah naik Gojek! Rupanya, Gojek yang aku naiki saat itu bukan yang aku pesan. Gojek yang kupesan rupanya driver kedua yang datang setelah driver pertama. Jiah elah!

Gojek 20

Kalau Gojek yang ini sebenarnya cukup membawa kesialan. Karena, saat aku sedang naik motornya...

Tik...tik... Hujan deh!

Awalnya sih aku mau berhenti. Eeh, si driver bilang tidak perlu karena alasanya tempat tujuanku sudah dekat. Kampretoz!

Maka, aku pun sampai ke tempat tujuanku dengan baju (hampir) seluruhnya basah kuyup, plus besoknya aku terkena Flu. Lengkap deh kesialanku!

Yah Itulah beberapa ceritaku tentang Gojek ini. Meskipun kadang beberapa drivernya ada yang kesasar, tidak tahu arah... Tapi yang jelas, aku puas dan senang sekali dengan salah satu aplikasi pesan antar karya anak Bangsa ini. Berkat Gojek, kini aku bisa lebih mudah pergi kemana-mana.

Thanks Gojek!

Sabtu, 10 Oktober 2015

Pindah Ibukota? Hmm...

Pindah Ibukota?

Yup, itulah pertanyaan sekaligus tulisan yang akan aku bahas kali ini.

Sejak dulu, ada wacana yang berasal dari pemerintah tentang pemindahan Ibukota negara kita. Jakarta, Ibukota Indonesia saat ini dinilai sudah terlalu padat dan penuh sesak oleh jutaan orang yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara. Belum lagi dengan permasalahan klasik khas Kota ini : Banjir.



Jika kalian mengira wacana ini baru dikemukakan baru-baru ini, dugaan kalian salah. Karena, jika dilihat dari catatan sejarah, rupanya wacana ini sudah ada sejak zaman Ir. Soekarno berkuasa. Pada saat itu, Bung Karno berniat untuk memindahkan Ibukota ke sebuah Kota di Pulau Kalimantan, yaitu Palangkaraya. Kenapa Bung Karno memilih Palangkaraya?

Pertama, Palangkaraya dinilai sebagai titik pusat Indonesia. Jadi, untuk mengaturnya pun lebih mudah.

Kedua, lokasinya strategis. Tidak ada ancaman Gunung Api ataupun Gempa Bumi. Selain itu, wilayahnya dinilai pula cukup luas untuk membangun sebuah Ibukota.

Ketiga, dekat dekan perbatasan dengan Malaysia. Jadi, mengurus perbatasan pun dinilai menjadi lebih mudah.

Sayang, mimpi Bung Karno tidak pernah kesampaian. Karena masalah biaya dan medan yang sulit saat itu, maka pemindahan Ibukota ini pun dinilai hanya sebagai wacana saja. Setelah Bung Karno, rupanya Presiden selanjutnya yaitu Suharto, konon juga memiliki niat untuk memindahkan Ibukota ke pulau luar Jawa. Namun lagi-lagi, hal itu dianggap hanya wacana lain dan angin lalu saja.

Nah, di zaman sekarang muncul berita-berita baru lagi tentang pemindahan Ibukota ini. Konon, pemerintah sudah memiliki beberapa pilihan baru tentang lokasi Ibukota. Yang terkenal mungkin di Jonggol. Entah apa alasanya, tapi yang jelas setelah kabar ini mulai terkenal, harga tanah di Jonggol malah naik berkali-kali lipat dari harga sebelumnya!

Selain Jonggol, Karawang dan daerah Bodetabek diduga juga menjadi opsi pilihan pemerintah saat itu. Namun untuk ketiga kalinya, hal ini hanya wacana saja, alias tidak benar-benar akan dilakukan.

Mungkin dalam kasus ini, kita harus melihat ke 2 negeri tetangga kita, Malaysia dan Myanmar.

Di Malaysia, pusat pemerintahan negara kini berada di Putrajaya, yaitu sebuah distrik yang didalamnya terdapat gedung-gedung pusat pemerintahan negeri jiran itu. Pemindahanya sendiri, dari Kuala Lumpur ke Putrajaya jelas tidak memakan biaya yang sedikit. Tapi intinya, mereka bisa dan kini hasilnya mulai terlihat ; Kuala Lumpur lebih tenang dan tidak terlalu padat, dan masalah di Ibukotanya pun berkurang.



Sementara itu, di Myanmar, Ibukota negara resmi sudah dipindahkan ke sebuah daerah yang bernama Naypyidaw. Rupanya, pemerintah negeri seribu pagoda tersebut dikatakan ingin mengurangi beban Yangoon, Ibukota sebelumnya. Hal itu dinilai karena Yangoon dianggap sudah terlalu padat dan penuh sesak (persoalanya mirip dengan Jakarta dan Kuala Lumpur) sehingga pemerintahnya pun membangun Ibukota baru di daerah yang kini bernama Naypyidaw. Sebelumnya, daerah tersebut adalah sebuah desa kecil.



Hal itu pun dinilai cukup baik dan dalam proses pembangunanya dianggap berjalan lancar. Namun sayangnya, hingga kini belum tampak keramaian dan pembangunan di Ibukota baru tersebut, sehingga kini Kota itu sepi dan dinilai sebagai "Kota Hantu".

Nah, setelah mengetahui dan membaca sekilas tentang cara kedua negara tersebut memindahkan Ibukotanya, kini aku pun mulai berpikir ; kapan ya Indonesia mulai mencontoh kedua negara tersebut? Apa karena kurangnya modal dan persiapan, sehingga wacana pemindahan Ibukota kita tak akan pernah terjadi? Hmmm...





Selasa, 29 September 2015

Seumur hidup di Studio

Baru-baru ini, aku dan semua teman sekelasku baru saja menonton trailer sebuah film yang menurutku cukup bagus, yaitu The Truman Show.


Rating Film : 3.5/5

Jadi di kelasku, sekarang tiap minggu ada kegiatan yang isinya wajib menceritakan dan memutar trailer film favorit masing-masing. Nah, kebetulan minggu itu yang kebagian untuk menceritakan filmnya adalah Kak Rizky, salah satu guru di kelasku.

Maka, setelah Istirahat 1 usai (jam 10.20) kelas pun dirubah menjadi "bioskop" kecil untuk menayangkan film yang Kak Rizky sukai dan hikmah yang dapat diambil dari film itu. Dan Kak Rizky saat itu mengulas sebuah film yang berjudul The Truman Show.

The Truman Show (1998) merupakan film Drama dan Komedi yang berasal dari Amerika Serikat. Film ini menceritakan tentang kisah hidup Truman Burbank (Jim Carrey) yang seumur hidupnya tinggal di sebuah Studio besar yang terletak di belakang tulisan "Hollywood" yang terkenal.

Tampaknya alur film ini biasa saja ya? yup... Hal itu juga yang awalnya terlintas di benakku ketika Kak Rizky menceritakan plot film ini. Namun rupanya, Kak Rizky belum selesai berbicara...

"Ya, Truman ini tinggal di Studio seumur hidupnya, namun ia tidak menyadarinya".

Maksudnya?

"Jadi sejak ia lahir, ia sudah diadopsi oleh sebuah perusahaan film yang terletak di Hollywood. Perusahaan film itu rupanya ingin membuat sebuah Reality Show yang bertemakan tentang kehidupan Truman. Namun rupanya, Reality Show itu nonstop 7 hari 24 jam alias tidak pernah ada jedanya! Jadi, selama kurun waktu bertahun-tahun semenjak ia diadopsi, acaranya yang berjudul The Truman Show terus menerus ditanyangkan di televisi. Sementara itu, Truman tetap hidup layaknya orang normal di dalam studio ,namun ia tidak menyadari bahwa seluruh hidupnya hanya Rekayasa saja."

Oooh! Jadi begitu! Rupanya film ini bercerita tentang kisah hidup Truman Burbank yang selama ini ia tidak sadari bahwa... semuanya hanya rekayasa semata saja!

Bayangkan, Istri, Ibunya sampai bahkan sahabatnya itu semua adalah aktor! Dan tentu saja jelas : selama ini mereka hanya berpura-pura saja agar Truman tidak curiga!

Setelah itu, Kak Rizky pun lanjut bercerita tentang film ini."Suatu hari, Truman ingin sekali menjelajah dunia luar, karena selama ini ya dia hidup di kota kecil tempat tinggalnya sejak dulu. Namun rupanya, niatnya tidak pernah berhasil karena bila ia keluar dari studio, maka tentu saja perusahaan film tempat pembuatan Reality Shownya itu akan bangkrut!" jelas Kak Rizky.

Hmm, menarik. Rupanya Truman sudah diatur agar jangan keluar dari "dunianya".

"Suatu hari, Truman akhirnya berhasil mengarungi lautan di depan kotanya. Ia menaiki perahu untuk sampai ke ujung studio. Dan setelah ia tahu bahwa seluruh hidupnya hanya rekayasa belaka, maka ia pun sedih sekaligus kaget luar biasa. Rupanya, selama ini hidupnya yang sempurna dan baik-baik saja itu hanya tipuan semara saja..." 

Wew.

"Lalu, setelah itu sang sutradara Reality Shownya mengajaknya bicara. Ia memberikan pilihan kepadanya : keluar dari studio atau tetap di studio?"

"Rupanya, ia memilih untuk keluar dari studio itu. Ia merasa bahwa selama ini hidupnya hanya rekayasa saja. Dan setelah itu, ia pun keluar dari studio dan... Tamat!". Hah? rupanya film itu berakhir sampai di situ. Yah! Padahal sejak tadi aku penasaran bagaimana endingnya. Namun rupanya, ending film terkesan "biasa saja".

Film ini cukup mengkritik cara orang-orang yang selama ini hidup di dunia hiburan. Di Film ini, mereka digambarkan sangat serius, santai dan bersahabat. Padahal kenyataanya, banyak yang hanya berpura-pura saja saat sedang tampil di Layar kaca!

Aku salut kepada Kak Rizky, karena film pilihanya kali ini cukup bagus dan menghibur. Semoga kedepanya teman-teman juga dapat memberikan film-film yang bagus dan memiliki pesan moral yang membekas di ingatan.






Sabtu, 29 Agustus 2015

Nostalgia bersama Jerman Timur

Aku lahir saat dunia dimenangkan oleh kapitalis. Ya, tepatnya di tahun 2000. Aku tumbuh di era dimana Komunis dianggap sebagai ideologi yang gagal dan dicap Atheis.

Sejak sd, aku sangat penasaran dan ingin tahu apa saja yang terjadi sebelum aku lahir, dan kenapa orang-orang disekitarku sangat membenci Komunis. Hal ini dapat dilihat saat aku tak sengaja mengucapkan "Komunis" di depan Nenekku. Saat itu ia kaget dan langsung memarahiku.

"Astaghfirloh! Trystan! Jangan sekali-kali lagi ucapkan kata itu!"

Seingatku, itulah yang Nenekku lakukan kepadaku setelah tak sengaja mengucapkan kata itu. Komunis.

Sejak saat itu, aku makin penasaran dengan apa yang disebut dengan Komunis. Ideologi macam apa itu? apakah ideologi ini pernah menguasai Indonesia? apakah ideologi ini pembawa kebaikan atau malah ketakutan, sehingga hampir semua orang yang kutemui sangat anti dan ketakutan saat mendengankan kata tersebut?

Semua pertanyaan itu mungkin telah terjawab dengan sebuah film. Ya, lebih tepatnya sebuah film dokumenter dibawah ini:

Rating Film : 4/5

Awalnya aku menemukan film ini saat sedang browsing. Saat itu aku sangat penasaran dengan kehidupan warga yang hidup di negara Komunis. Maka aku pun seketika menemukan film ini. Menurut orang-orang yang telah menontonya, film ini cukup bagus dan menarik karena dengan sengaja film ini memperlihatkan kehidupan warga Jerman Timur yang negaranya berideologi Komunis. 

Yippie! Aku sangat senang sekali! Akhirnya aku menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan tentang kehidupan sebelum aku lahir (tepatnya 1980-1990). Maka aku pun segera menonton film ini.

FIlm Good Bye Lenin sendiri adalah film yang berasal dari Jerman. Film ini mengangkat kisah tentang perjuangan seorang anak yang sangat peduli terhadap Ibunya. 

Jadi alkisah, di tahun 1990 Jerman bersatu kembali setelah sempat berpisah selama 40 tahun akibat perang dingin antara Amerika (Kapitalis) dan Uni Soviet (Komunis).Nah, di Berlin (Ibukota Jerman kini) ada seorang perempuan yang keadaanya kritis. Ia terkena koma. Sang dokter yang merawatnya bilang bahwa nyawa perempuan tua ini dapat melayang jika ia tahu bahwa negaranya yang sangat ia banggakan, Jerman Timur telah tiada.

Maka, sang anak yang bernama Alex pun segera membuat suasana apartemen tempat tinggalnya kembali seperti saat zaman Komunis dahulu. Kesan norak dan kuno pantas disematkan untuk suasana apartemen khas Komunis tersebut. Selain itu, dengan bantuan dari sang adik, pacar dan temanya yang berasal dari Jerman Barat, maka ia pun segera membuat "sandiwara" seolah-olah Jerman Timur masih ada.

Awalnya sang ibu tidak curiga. Tapi lama kelamaan, ia tersadar ada yang tidak beres dengan negaranya tersebut. Dan setelah ibunya tahu bahwa Jerman Timur telah bubar... lanjutanya nonton sendiri deh filmnya :D 

Nah! Setelah aku menonton film tersebut, rupanya kini aku mengerti mengapa orang-orang cukup risau dan takut saat mendengar kata Komunis. Rupanya, itu karena orang-orang berpandangan bahwa Komunis identik dengan kekerasan, kerja paksa dan Atheis. Padahal tidak semua hal itu benar. Komunis pada dasarnya memiliki dasar yang bagus, tapi sayangnya orang-orang yang menganut ideologi ini justru tidak menaati dasar-dasarnya, sehingga pada akhirnya : Komunis dicap gagal.

Selain itu, aku merasa film ini cukup menarik dan menurut beberapa sumber yang kubaca, rupanya film ini dibuat sebagai nostalgia bagi rakyat Jerman Timur yang kini negaranya telah tiada. 

Jadi, pertanyaan masa kecilku terjawab sudah. Rupanya, tak selamanya Komunis itu buruk. Mungkin Komunis dianggap sebagai ideologi sesat karena akal-akalan barat yang menganut sistem kapitalis (musuh besar Komunis). Maka itu, jangan mudah terkecoh dengan apa yang diberitakan di media masa kini. Kabanyakan terlalu memihak barat. 

Oh iya, aku sangat menyarakan film ini untuk ditonton, apalagi bagi orang-orang yang penasaran dengan Komunis dan kehidupan di dalamnya. 



Jumat, 16 Januari 2015

5 Negara yang kini telah tiada

Kini, di dunia ini terdapat sekitar 190 negara yang merdeka dan diakui oleh PBB. Tapi tahukah kamu, bahwa dahulunya ada negara-negara lain dan kini telah bubar plus menghilang dari peta dunia? kini, beberapa negara tersebut ada yang sudah bubar atau sudah memerdekakan diri dari negara lain. Mau tahu? langsung saja, ini dia...

Dimulai dari...

Jerman Timur

Kini, Jerman yang kita kenal sekarang adalah satu, tak ada bagian negaranya yang terpecah menjadi negara sendiri. Namun hal ini tak berlaku pada tahun 1945-1990. Lho, kenapa bisa begitu?

Ya, setelah Jerman kalah pada Perang Dunia ke 2, Pasukan sekutu pun menguasai daerah ini. Untuk bagian Barat, dikuasai oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Sementara bagian timur dikuasai oleh Uni Soviet. Setelah itu, bagian Barat Jerman menjadi Republik Federal Jerman (RFJ) sementara bagian timur menjadi Republik Demokratik Jerman (RDJ).

Sayangnya, banyak warga Jerman Timur yang tidak mau ideologinya Komunis pun berbondong-bondong pindah ke Barat yang konon nantinya ekonominya dapat lebih maju dan baik daripada di timur. Sampai tahun 1961, banyak warga Berlin Timur (daerah RDJ) yang pergi ke Barat (Berlin Barat) agar hidupnya lebih baik. Agar tak ada lagi warganya yang pergi ke Barat, maka dibuatlah Tembok Berlin (yang tetap bertahan hingga tahun 1989). Berlin yang indah dipisahkan oleh sebuah tembok yang dapat merenggut nyawa orang yang melewatinya.

Selain terkenal akan Tembok Berlinya, negara ini juga terkenal karena sebuah menara yaitu Fernsehturm, yaitu sebuah menara televisi yang kini menjadi ikon Berlin.

Fersehturm

Di tahun 1980-90 an, Jerman Barat terkenal akan industrinya dan Ekonominya yang maju dan berkembang pesat. Sementara itu, warga Jerman Timur hanya bisa "pasrah" karena Ekonomi negaranya jauh ketinggalan daripada saudaranya. Karena itu, pada tahun 1989, Pemerintah Austria membuka gerbang perbatasan mereka dengan RDJ, yang menyebabkan banyak orang yang berasal dari Jerman Timur segera pergi ke perbatasan dan meminta suaka di Kedutaan Besar Jerman Barat di Austria.

Akhirnya, di tahun itu pula G√ľnther Schabowski, salah satu anggota Politburo (Semacam DPR nya Komunis) mengabarkan bahwa pemerintah setuju Tembok Berlin dibuka. Ia mengatakan pada hari itu (9/11/89) tembok dapat dilewati, padahal harusnya besok! Ups...

Maka, berbondong-bondong orang dari seluruh penjuru Berlin pun pergi ke tembok yang sudah memisahkan kota mereka selama kurang lebih 30 tahun itu, dan merobohkanya. Setelah itu kedua pihak Jerman melakukan Unifikasi (Penyatuan kembali). Maka, tamatlah riwayat Jerman Timur, sebuah negara yang terbentuk akibat kekalahan Jerman di Perang Dunia ke 2.

Uni Soviet

Negara ini sempat ada di muka Bumi selama 73 tahun. Uni Soviet dahulu meliputi banyak negara, seperti diantaranya Georgia, Turkmenistan, Azerbaijan, Uzbekistan, Estonia, Latvia, dll. 

Negara ini terbentuk akibat Revolusi 1917 yang dilakukan oleh Vladimir Ilyich Lenin bersama kaumnya, yaitu kaum Bolshevik. Ia menggulingkan Tsar Nicholas , yang saat itu berkuasa di Rusia dan konon seluruh anggota keluarganya dibunuh setelah revolusi tersebut.

Setelah Lenin berkuasa, ia membubarkan Kerajaan Rusia dan mendirikan Uni Soviet, negara Sosialis pertama di muka Bumi. Setelah itu ia memulai meluaskan luas negaranya hingga ke negara-negara tetangga seperti ke daerah Kaukasia dan negara-negara Baltik. Setelah Lenin, Joseph Stalin yang berkuasa. Ia dikenal sebagai Presiden yang gemar membantai warganya. Meskipun begitu, ialah salah satu tokoh yang membuat Jerman kalah Perang Dunia 2.

Stalin wafat, Nikita Kruschev yang berkuasa. Ia dikenal sebagai Presiden yang membuat Soviet kala itu menjadi negara pertama yang membuat Satelit dan mengirimkan Kosmonot ke Luar angkasa. Oh iya, saat itu Ir. Soekarno (Indonesia) dan Khruscev (Uni Soviet) pernah bekerja sama dalam mambangun GBK (Gelora Bung Karno) lho! Selain GBK, jalan layang Semanggi yang ada di Jakarta juga hasil kerjasama antara Soekarno dan Khruscev juga.



Setelah Khruscev, Leonid Brezhev mengambil kekuasaan, dan menjadikan Negara itu menjadi Tuan Rumah Olimpiade di tahun 1980. Mikhail Gorbachev menjadi Presiden terakhir negara ini. Akibat proyek Ekonominya (Glasnost dan Perestorika) membuat Soviet hancur karena ekonomi keterbukaanya akhirnya membuka pintu gerbang "kehancuran Sovet".

Setelah dilanda krisis ekonomi dan tuntutan kemerdekaan dari negara-negara bagianya, maka bubarlah Uni Soviet, negara adikuasa itu di "umurnya" yang ke 73 tahun (1917-1991) Nah, setelah Soviet bubar, praktis Perang Dingin pun dimenangkan Amerika, yang kini menjadi kekuatan utama dunia hingga kini.

Yugoslavia

Arti dari nama negara ini adalah Slavia Selatan. Negara ini pernah ada di daratan Eropa dari tahun 1918 sampai 2003. Dalam sejarahnya, negara ini pernah berganti sistem pemerintahan dari Kerajaan hingga Republik Sosialis. Ibukota negara ini adalah Beograd.

Beberapa wilayahnya pernah diduduki Kerajaan Ottoman dan Kerajaan Austria-Hungaria. Etnis di negara ini cukup banyak, antara lain etnis Serbia, Bosnia, Kroasia, dan etnis-etnis lainya yang kebanyakan memang penduduk asli negara tersebut. Selama Perang Dunia ke 2, diduduki tentara Nazi, dan setelah itu menjadi negara Komunis dibawah pemerintahan Josip Broz Tito.

Setelah Tito menjadi presiden, ia mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup negara tersebut. Oh iya, saat itu presiden Tito juga menjadi salah satu pendiri gerakan Non blok, bersama Ir. Soekarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India) Kwame Nkrumah (Ghana) dan Gamal Abdul Nasser (Mesir).

1980, Tito wafat. Mulailah muncul perbedaan antar etnis dan diskriminasi di negeri ini. Saat itu, Yugoslavia juga sedang mengalami krisis ekonomi.

1992, salah satu negara bagianya, Bosnia dan Herzegovina memerdekakan diri. Hal ini langsung disambut dengan penolakan oleh etnis Serbia di negara tersebut, sehingga memicu perang antara tahun 1992-1995. Perang ini berakhir dengan banyaknya etnis Muslim Bosnia yang terbunuh.

2003, setelah melalui perjalanan panjang penuh darah dan perang, bubarlah Yugoslavia. Hal ini terjadi karena negara ini dibentuk ulang, sehingga hal itu membuat Yugoslavia harus bubar.

Negara-negara pecahanya : Slovenia, Kroasia, Makedonia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Serbia dan Kosovo.

Cekoslovakia

Adalah sebuah negara di Eropa tengah yang berdiri sejak tahun 1918-1992. Negara ini adalah salah satu negara pecahan Kerajaan Austro-Hungaria. 

Dari tahun 1939-1945, negara ini direbut dan dimasukan ke dalam salah satu daerah Nazi Jerman. Namun setelah Perang Dunia ke 2 berakhir, negara ini direbut oleh Tentara Merah Soviet.


Setelah Tentara Merah Soviet merebut negara ini, maka setelah itu Cekoslovakia pun merubah ideologinya menjadi Komunis, sama seperti ideologi Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur lainya. Maka, setelah itu Cekoslovakia pun masuk ke salah satu Anggota negara-negara Blok Timur dan Pakta Warsawa (NATO nya negara Komunis pada saat itu).

1980-1990an, banyak negara Komunis yang bubar termasuk negara ini. Setelah perlawanan dan ketidakpuasan rakyat, maka negara ini pun bubar dan tidak menjadi negara penganut faham Komunis lagi.

Namun rupanya, di tahun 1992, negara bagianya yaitu Slovakia memisahkan diri akibat perbedaan etnis antara etnis Ceko dan Slovak. Setelah itu, kedua negara pun lahir akibat perbedaaan pendapat itu. Meskipun memisahkan diri, namun Sloovakia tidak mengambil sikap anarkis, melainkan dengan damai. Peristiwa itu pun dikenal hingga kini sebagai Revolusi Beludru.

Republik Indonesia Serikat 

Republik Indonesia Serikat? memang dulu Indonesia pernah menjadi negara berbentuk federasi seperti Amerika ya?

Yup, benar sekali! 

Jadi dulu, negara ini terbentuk pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar antara Indonesia dan Belanda. Pada saat itu, Ir. Soekarno masih menjabat sebagai presiden, namun tidak ada jabatan wakil presiden. Jadi, Mohammad Hatta menjabat sebagai Perdana Menteri, bukan Wapres.

Negara ini terdiri dari beberapa negara bagian, sebut saja Negara Pasundan (yang beribukota di Bandung), Negara Jawa Timur (yang beribukota di Surabaya) dan negara-negara bagian lainya. Oh iya, disamping itu ada juga negara-negara yang berdiri sendiri seperti misalnya Negara Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tenggara, dan lain-lain.

Usia negara ini tidak panjang, hanya bertahan selama beberapa bulan sebelum akhirnya dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950.

***

Nah, itulah beberapa negara yang kini telah tiada alias sudah bubar. Semoga menambah wawasan dan ilmu kalian semua :D