Sabtu, 10 Oktober 2015

Pindah Ibukota? Hmm...

Pindah Ibukota?

Yup, itulah pertanyaan sekaligus tulisan yang akan aku bahas kali ini.

Sejak dulu, ada wacana yang berasal dari pemerintah tentang pemindahan Ibukota negara kita. Jakarta, Ibukota Indonesia saat ini dinilai sudah terlalu padat dan penuh sesak oleh jutaan orang yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara. Belum lagi dengan permasalahan klasik khas Kota ini : Banjir.



Jika kalian mengira wacana ini baru dikemukakan baru-baru ini, dugaan kalian salah. Karena, jika dilihat dari catatan sejarah, rupanya wacana ini sudah ada sejak zaman Ir. Soekarno berkuasa. Pada saat itu, Bung Karno berniat untuk memindahkan Ibukota ke sebuah Kota di Pulau Kalimantan, yaitu Palangkaraya. Kenapa Bung Karno memilih Palangkaraya?

Pertama, Palangkaraya dinilai sebagai titik pusat Indonesia. Jadi, untuk mengaturnya pun lebih mudah.

Kedua, lokasinya strategis. Tidak ada ancaman Gunung Api ataupun Gempa Bumi. Selain itu, wilayahnya dinilai pula cukup luas untuk membangun sebuah Ibukota.

Ketiga, dekat dekan perbatasan dengan Malaysia. Jadi, mengurus perbatasan pun dinilai menjadi lebih mudah.

Sayang, mimpi Bung Karno tidak pernah kesampaian. Karena masalah biaya dan medan yang sulit saat itu, maka pemindahan Ibukota ini pun dinilai hanya sebagai wacana saja. Setelah Bung Karno, rupanya Presiden selanjutnya yaitu Suharto, konon juga memiliki niat untuk memindahkan Ibukota ke pulau luar Jawa. Namun lagi-lagi, hal itu dianggap hanya wacana lain dan angin lalu saja.

Nah, di zaman sekarang muncul berita-berita baru lagi tentang pemindahan Ibukota ini. Konon, pemerintah sudah memiliki beberapa pilihan baru tentang lokasi Ibukota. Yang terkenal mungkin di Jonggol. Entah apa alasanya, tapi yang jelas setelah kabar ini mulai terkenal, harga tanah di Jonggol malah naik berkali-kali lipat dari harga sebelumnya!

Selain Jonggol, Karawang dan daerah Bodetabek diduga juga menjadi opsi pilihan pemerintah saat itu. Namun untuk ketiga kalinya, hal ini hanya wacana saja, alias tidak benar-benar akan dilakukan.

Mungkin dalam kasus ini, kita harus melihat ke 2 negeri tetangga kita, Malaysia dan Myanmar.

Di Malaysia, pusat pemerintahan negara kini berada di Putrajaya, yaitu sebuah distrik yang didalamnya terdapat gedung-gedung pusat pemerintahan negeri jiran itu. Pemindahanya sendiri, dari Kuala Lumpur ke Putrajaya jelas tidak memakan biaya yang sedikit. Tapi intinya, mereka bisa dan kini hasilnya mulai terlihat ; Kuala Lumpur lebih tenang dan tidak terlalu padat, dan masalah di Ibukotanya pun berkurang.



Sementara itu, di Myanmar, Ibukota negara resmi sudah dipindahkan ke sebuah daerah yang bernama Naypyidaw. Rupanya, pemerintah negeri seribu pagoda tersebut dikatakan ingin mengurangi beban Yangoon, Ibukota sebelumnya. Hal itu dinilai karena Yangoon dianggap sudah terlalu padat dan penuh sesak (persoalanya mirip dengan Jakarta dan Kuala Lumpur) sehingga pemerintahnya pun membangun Ibukota baru di daerah yang kini bernama Naypyidaw. Sebelumnya, daerah tersebut adalah sebuah desa kecil.



Hal itu pun dinilai cukup baik dan dalam proses pembangunanya dianggap berjalan lancar. Namun sayangnya, hingga kini belum tampak keramaian dan pembangunan di Ibukota baru tersebut, sehingga kini Kota itu sepi dan dinilai sebagai "Kota Hantu".

Nah, setelah mengetahui dan membaca sekilas tentang cara kedua negara tersebut memindahkan Ibukotanya, kini aku pun mulai berpikir ; kapan ya Indonesia mulai mencontoh kedua negara tersebut? Apa karena kurangnya modal dan persiapan, sehingga wacana pemindahan Ibukota kita tak akan pernah terjadi? Hmmm...