Jumat, 02 Maret 2018

Agama : Sebagai penyebar berita Hoax

Beberapa bulan ini negeri kita mengalami banyak sekali musibah. Semuanya seperti sedang menguji rasa toleransi kita. Penyerangan Gereja St Lidwina, Persekusi penganut Agama Buddha, hingga pengeroyokan Ulama menjadi berita hangat di beberapa situs berita nasional. Entah kenapa ketika melihat berita-berita tersebut saya selalu memiliki pikiran buruk bahwa suatu hari nanti, tidak akan ada lagi Indonesia. Pecah. Perang Saudara berkecamuk di seantreo negeri. Bayangkan kota-kota besar hancur, dan masyarakat serta kaum minoritas makin tidak nyaman untuk tinggal, sehingga terpaksa mengungsi. Gambaran itu sekilas mirip dengan kondisi timur tengah (terutama Suriah) hari ini.

Akankah di masa mendatang negara ini berubah haluan menjadi negara Islam? entahlah. Tapi saya rasa bisa saja. Mengingat semenjak ormas-ormas pendukung Khilafah dibubarkan pemerintah, justru malah makin banyak orang yang berhasrat mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan banyak nya penganut Islam di negeri ini, hal tersebut tidaklah mustahil.

Tapi sayang, cara yang mereka tempuh kadang dianggap terlalu "kasar" bahkan mengarah pada radikalisme. Disini saya tidak bermaksud berprasangka buruk, namun dengan bukti di lapangan...entahlah.

Pada hari Rabu (28/01/2018) lalu, polisi menangkap sejumlah oknum yang diduga sebagai admin MCA (Muslim Cyber Army). Kiprah mereka antara lain berhasil mengalahkan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dalam pilkada DKI tahun lalu, serta menggoreng isu kebangkitan PKI untuk menyerang beberapa kepala pemerintahan. Tak jarang kata-kata hasutan beserta berita palsu (Hoax) juga sering mereka sebarkan. Bahkan banyak yang tak segan-segan mengeluarkan dalil-dalil Agama sebagai "pemanis" tambahan, agar berita tersebut makin banyak dipercaya oleh masyarakat.

Dan dari mereka pula, berita Hoax mengenai penyerangan Ulama di Jawa Barat berasal. Sampai disini saya sangat heran, segitunya kah mereka? sampai-sampai Agama dijadikan senjata sebagai penyebar berita-berita palsu tersebut? Dengan enteng nya mereka membawa embel-embel "Muslim" namun sangat tidak mencerminkan Agama tersebut?

Oke. Mungkin mereka tidak menyukai publik figur tersebut. Namun tidak usahlah menggunakan Agama sebagai pembelaan. Janganlah dengan mudahnya berkata "Kafir" "Murtad" "Komunis" bahkan menghina ajaran orang lain. Apakah itu Islam? Agama yang damai? Pantas saja di negara Barat sana Islam seringkali dijadikan bahan candaan, serta makin dihindari. Itu karena ulah sejumlah oknum-oknum ini. Jangan sampai Islamphobia makin menyebar, sehingga menyebabkan hidup Muslim minoritas di sana makin tertekan.



Tolong lah. Jangan terlalu overodis dalam menganut Agama. Ingatlah bahwa ini Indonesia. Negara yang menganut faham Pancasila, bukan syariat Islam. Negara yang sangat menghargai toleransi, bukan negara yang gemar menghasut dan menghina ajaran orang lain. Indonesia BUKAN dan tak akan pernah menjadi negara Islam, tetapi negara dengan penganut ajaran Islam terbesar di dunia.

"Hargai orang lain jika anda ingin dihargai. Hidup ini mudah, Ego-lah yang menyulitkanya" -Anonim